<![CDATA[HALOTANI - Teknologi]]>Tue, 19 May 2020 10:11:06 -0700Weebly<![CDATA[Ulat Buah]]>Fri, 01 May 2020 12:56:43 GMThttp://halotani.com/teknologi/dasdasdasUlat Buah : Helicoverpa (=Heliothis) armigera Hubn.

Nama umum : Helicoverpa armigera (Hübner, 1809)

Klasifikasi : Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
A=Helicoverpa armigera.
B=Helicoverpa assulta
(Sumbert gambar : CABI)


 Morfologi/Bioekologi
Ngengat betina muncul sehari lebih dahulu dari pada ngengat jantan. Ngengat jantan mudah dibedakan dari ngengat betina karena ngengat betina mempunyai pola bercak-bercak berwarna pirang tua, sedang ngengat jantan tidak mempunyai pola seperti itu. Nisbah kelamin jantan dan betina 1 : 1. Daur hidup H. armigera dari telur hingga ngengat mati berkisar antara 52 - 58 hari.
Ngengat betina meletakkan telur satu persatu pada pucuk daun, sekitar bunga dan cabang. Telur berbentuk bulat dan berwarna putih agak kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi kuning tua dan ketika akan menetas terlihat adanya bintik hitam. Stadium telur berkisar antara 10 - 18 hari dan persentase penetasan telur berkisar 63 - 82 persen.
Stadium larva berkisar antara 12 - 23 hari. Ketika baru keluar dari telur, larva berwarna kuning muda dan tubuhnya berbentuk silinder. Larva muda kemudian berubah warna dan terdapat variasi warna dan pola antar sesama larva. Larva H. armigera terdiri dari lima instar, instar pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima, masing-masing berumur 2 - 3 hari, 2 - 4 hari 2 - 5 hari, 2 - 6 hari dan 4 - 7 hari.
Pupa dibentuk di dalam tanah. Pupa yang baru terbentuk berwarna kuning, kemudian berubah kehijauan dan akhirnya berwarna kuning kecoklatan. Lama stadium pupa 15 - 21 hari.
Hama ulat buah tersebut menyebar di daerah sentra produksi tomat di Sumatera, Jawa dan Sulawesi.
Gejala serangan
Larva H. armigera melubangi buah tomat baik buah muda maupun yang sudah tua. Buah tomat yang terserang akan busuk dan jatuh ke tanah. Kadang-kadang larva juga menyerang pucuk tanaman dan melubangi cabang-cabang tomat.
Tanaman inang lain
Tanaman inang utama ulat buah adalah tomat, tembakau, jagung, dan kapas. Tanaman inang lainnya misalnya kentang, kubis, kacang-kacangan.
Pengendalian
  1. Kultur teknis
    Pengaturan waktu tanam. Tomat yang ditanam pada bulan September terserang ringan oleh larva H. armigera.
    Penanaman varietas toleran, seperti LV 2100 dan LV 2099.
    Penanaman tanaman perangkap tagetes (Tagetes erecta) di sekeliling tanaman tomat.
    Sistem tumpangsari tomat dengan jagung dapat mengurangi serangan H. armigera.
  2. Pengendalian fisik / mekanis
    Mengumpulkan dan memusnahkan buah tomat yang terserang H. armigera.
    Pemasangan perangkap feromonoid seks untuk ngengat H. armigera sebanyak 40 buah / ha.
  3. Pengendalian hayati
    Pemanfaatan musuh alami seperti : parasitoid telur H. armigera yaitu Trichogramma sp., parasitoid larva yaitu Eriborus argenteopilosus, dan virus HaNPV sebagai patogen penyakit larva H. armigera.
  4. Pengendalian kimiawi
    Bila ditemukan ulat buah ≥ 1 larva / 10 tanaman contoh, dapat diaplikasikan insektisida yang efektif dan diizinkan, antara lain piretroid sintetik (sipermetrin, deltametrin), IGR (klorfuazuron), insektisida mikroba (spinosad), dan patogen penyakit serangga H. armigera HaNPV 25 LE.

 ]]>
<![CDATA[Ulat Tanah]]>Fri, 01 May 2020 12:56:28 GMThttp://halotani.com/teknologi/asdasdasdNama umum : Agrotis ipsilon (Hufnagel, 1766)
Klasifikasi : Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Sumber gambar : CABI
Morfologi/Bioekologi
Umumnya ngengat Famili Noctuidae menghindari cahaya matahari dan bersembunyi pada permukaan bawah daun. Sayap depan berwarna dasar coklat keabu-abuan dengan bercak-bercak hitam. Pinggiran sayap depan berwarna putih. Warna dasar sayap belakang putih keemasan dengan pinggiran berenda putih. Panjang sayap depan berkisar 16 -19 mm dan lebar 6 - 8 mm. Ngengat dapat hidup paling lama 20 hari. Apabila diganggu atau disentuh, ngengat menjatuhkan diri pura-pura mati. Perkembangan dari telur hingga serangga dewasa rata-rata berlangsung 51 hari.
Telur diletakkan satu-satu atau dalam kelompok. Bentuk telur seperti kerucut terpancung dengan garis tengah pada bagian dasarnya 0,5 mm. Seekor betina dapat meletakkan 1.430 - 2.775 butir telur. Warna telur mula-mula putih lalu berubah menjadi kuning, kemudian merah disertai titik coklat kehitam-hitaman pada puncaknya. Titik hitam tersebut adalah kepala larva yang sedang berkembang di dalam telur. Menjelang menetas, warna telur berubah menjadi gelap agak kebiru-biruan. Stadium telur berlangsung 4 hari.
Larva menghindari cahaya matahari dan bersembunyi di permukaan tanah kira-kira sedalam 5 - 10 cm atau dalam gumpalan tanah. Larva aktif pada malam hari untuk menggigit pangkal batang. Larva yang baru keluar dari telur berwarna kuning kecoklat-coklatan dengan ukuran panjang berkisar antara 1 - 2 mm. Sehari kemudian larva mulai makan dengan menggigit permukaan daun. Larva mengalami 5 kali ganti kulit. Larva instar terakhir berwarna coklat kehitam­-hitaman. Panjang larva instar terakhir berkisar antara 25 - 50 mm. Bila larva diganggu akan melingkarkan tubuhnya dan tidak bergerak seolah-olah mati. Stadium larva berlangsung sekitar 36 hari. Pembentukan pupa terjadi di permukaan tanah.
Hama ulat tanah tersebut menyebar di daerah sentra produksi tomat.
Gejala serangan
Larva aktif pada malam hari untuk mencari makan dengan menggigit pangkal batang. Pangkal batang yang digigit akan mudah patah dan mati. Di samping menggigit pangkal batang, larva yang baru menetas, sehari kemudian juga menggigit permukaan daun. Ulat tanah sangat cepat pergerakannya dan dapat menempuh jarak puluhan meter. Seekor larva dapat merusak ratusan tanaman muda.
Tanaman inang lain
Selain menyerang tanaman tomat, ulat tanah juga menyerang tanaman jagung, padi, tembakau, tebu, bawang, kubis, kentang dan sebagainya.
Pengendalian
a). Kultur teknis
Pengolahan tanah yang baik untuk membunuh pupa yang ada di dalam tanah.
Sanitasi dengan membersihkan lahan dari gulma yang juga merupakan tempat ngengat A. ipsilon meletakkan telurnya.
b). Pengendalian fisik / mekanis
Pengendalian secara fisik dengan mengumpulkan larva dan selanjutnya dimusnahkan. Sebaiknya dilakukan pada senja – malam hari, dan larva biasanya dijumpai di permukaan tanah sekitar tanaman yang terserang.
c). Pengendalian hayati
Pemanfaatan musuh alami : parasitoid larva A. ipsilon yaitu Goniophana heterocera, Apanteles (= Cotesia) ruficrus, Cuphocera varia dan Tritaxys braueri. Predator penting adalah Carabidae. Patogen penyakit yang sering menyerang A. ipsilon adalah jamur Metharrizium spp. dan Botrytis sp. serta nematoda Steinernema sp. (lihat Lampiran....).
d). Pengendalian kimiawi
Apabila serangan ulat tanah tinggi, dapat dilakukan penyemprotan dengan insektisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian (lihat Lampiran....) antara lain aplikasikan Sipermetrin pada tanah di sekeliling tanaman tomat.

]]>
<![CDATA[VIRUS KUNING]]>Fri, 01 May 2020 12:51:29 GMThttp://halotani.com/teknologi/may-01st-2020Tomato Yellow Leaf Curl Virus (TYLCV) / Penyakit Virus Kuning : Geminivirus “TYLCV”.
Morfologi /Daur Penyakit
Geminivirus termasuk kelompok virus tanaman dengan genomnya berupa DNA utas tunggal, berbentuk bundar, dan terselubung dalam virion ikosahedral kembar (geminate).Penyakit tidak ditularkan melalui biji, tetapi dapat menular melalui penyambungan dan melalui serangga vektor kutu kebul. Kutu kebul dapat menularkan geminivirus secara persisten (tetap ; yaitu sekali makan pada tanaman yang mengandung virus, selamanya sampai menjelang mati dapat menularkan).
Gejala Serangan
Helai daun mengalami “vein clearing”, dimulai dari daun-daun pucuk, berkembang menjadi warna kuning yang jelas, tulang daun menebal dan daun menggulung ke atas (cupping). Infeksi lanjut menyebabkan daun-daun mengecil dan berwarna kuning terang, tanaman kerdil dan tidak berbuah.
Tanaman Inang
Selain menyerang tomat, dapat juga menyerang seperti pada cabai, tembakau, gulma babadotan (Ageratum conyzoides) dan gulma bunga kancing (Gomphrena globosa).
Pengendalian
Usaha pengendalian penyakit virus kuning (khususnya dengan pestisida) terutama ditujukan kepada serangga vektornya, karena sampai saat ini tidak ada pestisida yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian yang dapat mematikan virus. Langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit virus kuning, antara lain ;
Menggunakan bibit tanaman yang sehat (tidak mengandung virus) atau bukan berasal dari daerah terserang ;
Pengerodongan pesemaian dengan kain kassa/nylon untuk menghindari serangan vektor, dan di lapangan dengan menanam “companion planting” jagung dan tagetes (Tagetes erecta) ;
Pemasangan perangkap likat kuning (40 buah/ha) ;
Penggunaan mulsa plastik perak yang memantulkan sinar untuk menolak kedatangan vektor dan memutus siklus hidup (stadia pupa) ;
Melakukan rotasi / pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang virus (terutama bukan dari famili solanaceae seperti tomat, cabai, kentang, tembakau, dan famili cucurbitaceae seperti mentimun). Rotasi tanaman akan lebih berhasil apabila dilakukan paling sedikit dalam satu hamparan, tidak perorangan, dilakukan serentak tiap satu musim tanam, dan seluas mungkin ;
Melakukan sanitasi lingkungan, terutama mengendalikan tumbuhan pengganggu/gulma berdaun lebar dari jenis babadotan, gulma bunga kancing, dan ciplukan yang dapat menjadi tanaman inang virus;
Pemanfaatan musuh alami, dengan melepas parasitoid dan predator secara berkala, antara lain Menochilus sexmaculatus atau melepas parasitoid Encarcia formosa (1 ekor setiap 4 tanaman/minggu, selama 8 – 10 minggu) ;
Penggunaan pestisida nabati nimba, tagetes, eceng gondok atau rumput laut ;
Eradikasi tanaman sakit, yaitu tanaman yang menunjukkan gejala segera dicabut dan dimusnahkan supaya tidak menjadi sumber penularan ke tanaman lain yang sehat.
]]>