Budidaya Cabai Halo Tips Hortikultura

BUDIDAYA CABAI RAWIT

halotani.com – Cabai rawit yang memiliki nama latin Capsicum frutescens merupakan jenis cabai yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Sebagai daerah tropis, Jika dibudidayakan dengan benar cabai rawit mampu berproduksi hingga 2 sampai 3 tahun.

SYARAT TUMBUH CABAI RAWIT

Cabai rawit bisa tumbuh optimal jika dibudidayakan pada dataran rendah dengan ketinggian 0 – 500 mdpl. Jika ditanam didataran diatas 1000 mdpl, produktifitas berkurang. Tanaman cabai rawit memerlukan sinar matahari penuh atau minimal 8 jam/hari. pH ideal untuk menanam cabai rawit adalah 6,5 sampai 7.

PERSIAPAN LAHAN BUDIDAYA

Pertama sekali yang harus dilakukan adalah membersihkan lahan dari rumput atau gulma dan sisa-sisa tanaman sebelumnya. Kemudian dilakukan penggemburan tanah. Buatlah bedengan dengan lebar 90 – 100 cm, tinggi dan panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan. Pembuatan bedengan bertujuan untuk menghindari tergenangnya air saat hujan turun. Jarak antar bedengan antara 60 – 70 cm.

Setelah selesai membuat bedengan, langkah selanjutnya adalah penaburan pupuk dasar. Pupuk dasar untuk tanaman cabai rawit antara lain pupuk kandang/kompos, TSP, ZA dan KCL. Pupuk dasar ditaburkan 10 – 15 hari sebelum dilakukan penanaman. Taburkan pupuk dolomit jika pH tanah dibawah 6.5. Cabai rawit bisa ditanam dengan mulsa plastik atau tanpa mulsa plastik. Jarak tanam 70 x 60 cm atau 80 x 60 cm. 

PERSIAPAN BIBIT & PENYEMAIAN CABAI RAWIT

Benih cabai rawit yang bisa ditanam bermacam-macam, bisa cabai lokal atau cabai hibrida. Untuk benih buatan sendiri dari cabai lokal, pilihlah buah cabai dari pohon yang sehat. Gunakan buah cabai yang sudah matang sempurna yaitu buah yang sudah merah sepenuhnya antara 90 – 100%. Buah cabai yang baik adalah buah dari hasil panen ke-4 hingga ke-6.

Penyemaian bisa dilakukan dengan 2 cara, yakni menggunakan polybag atau tebar bedeng. Benih yang baru dibuat bisa langsung disemai. Sedangkan benih yang sudah agak lama, sebelum disemai benih direndam menggunakan air hangat kuku dan ZPT. Bisa juga direndam menggunakan air bawang merah. Bawang merah mengandung ZPT alami yang berfungsi untuk merangsang akar dan mempercepat perkecambahan. Bibit cabai bisa ditanam kelahan pada usia 25 – 30 hari setelah semai.

CARA MENANAM BIBIT CABAI RAWIT

Bibit cabai ditanam kelahan pada usia 25 – 30 hari setelah semai. Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari. Pilih bibit cabai yang sehat, dengan ciri-ciri memiliki vigor yang kuat dan memiliki daun yang berwarna hijau segar. Setelah penanaman segera lakukan penyiraman agar tanaman tidak layu. Jika musim hujan gunakan jarak tanam 80 x 60 cm, sedangkan pada musim kemarau jarak tanam 70 x 60 cm. Pada musim hujan jarak tanam sebaiknya tidak terlalu rapat agar lingkungan tidak terlalu lembab. Lingkungan yang lembab menyebabkan penyakit cendawan berkembang dengan cepat.

PEMASANGAN AJIR

Ajir atau lanjaran diperlukan untuk menopang tanaman agar berdiri kokoh. Ajir sebaiknya dipasang sebelum penanaman, atau segera setelah penanaman selesai. Kemudian tanaman cabai rawit diikat menggunakan tali. Ajir bisa menggunakan kayu atau bambu. Ajir ditancapkan dengan jarak kurang lebih 5 cm dari batang tanaman. Jika tanaman sudah besar, ajir dipasang dengan posisi miring membentuk sudut 30 atau 45 derajat agar tidak merusak akar tanaman.

CARA PERAWATAN & PEMELIHARAAN CABAI RAWIT

Lakukan penyulaman segera jika ada tanaman yang mati atau terinfeksi penyakit. Penyulaman dilakukan setidaknya sampai tanaman berusia 2 minggu. Bersihkan rumput dan gulma liar yang tumbuh disekitar tanaman agar tidak mengganggu tanaman. Membersihkan gulma juga bermanfaat untuk meminimalisir serangan hama dan penyakit. Gulma jika dibiarkan bisa menjadi tempat bersembunyi atau inang hama dan penyakit.

Penyiraman dilakukan jika diperlukan, frekuensi penyiraman disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Jika musim kering atau musim kemarau lakukan penyiraman sesering mungkin, agar tanaman tidak mati kekeringan. Penyiraman bisa dilakukan dengan kocoran atau merendam bedengan (Leb).

Pemupukan susulan pertama kali bisa dilakukan saat tanaman cabai rawit berusia 2 minggu setelah tanam. Pemupukan pertama menggunakan pupuk NPK sebanyak 3 kg / 1000 tanaman. Larutkan pupuk dengan 200 liter air, kocorkan pada tanaman cabai rawit sebanyak 200 ml per tanaman. Pemupukan selanjutnya dilakukan setiap 1 minggu dengan penambahan dosis secara berkala. Penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Pupuk yang biasa digunakan adalah NPK, KCL, TSP, ZA, KNO3 atau MKP.

Penyemprotan pupuk daun juga diperlukan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara mikro. Penyemprotan pupuk daun dilakukan setiap 1 minggu. Agar lebih praktis, penyemprotan bisa dilakukan bersamaan dengan insektisida atau fungisida.

PENGENDALIAN HAMA & PENYAKIT CABAI RAWIT

Hama dan penyakit tanaman cabai rawit sama halnya dengan cabai merah atau cabai keriting. Hama dan penyakit tersebut antara lain ;

Hama tanaman cabai rawit :

  1. Ulat grayak,
  2. ulat tanah,
  3. jangkrik,
  4. tungau,
  5. thrips,
  6. aphids/kutu daun,
  7. bekicot dan lalat buah.

Penyakit tanaman cabai rawit :

  1. Layu fusarium,
  2. layu bakteri,
  3. antraknosa/patek,
  4. virus gemini,
  5. bercak daun,
  6. busuk batang dan busuk buah.

Pengendalian dengan cara penyemprotan insektisida dan fungisida.

CARA PANEN & MASA PANEN CABAI RAWIT

Cabai rawit bisa dipanen pada usia 80 – 90 HST (Hari Setelah Tanam). Cabai rawit bisa dipanen dengan dua cara, yaitu dipanen sebagai cabai rawit hijau dan sebagai cabai rawit merah. Cabai rawit dipanen dengan menyesuaikan permintaan pasar. Di daerah Sumatera pada umumnya masyarakat menyukai cabai rawit hijau dan tidak menyukai cabai rawit merah. Sementara di Pulau Jawa bervariasi, cabai rawit bisa dipanen hijau maupun dipanen sebagai cabai rawit merah merah.

Pemanenan sebaiknya dilakukan dipagi hari setelah embun mengering. Cabai rawit bisa dipanen setiap 1 minggu sekali. Jika budidaya dilakukan dengan benar, cabai rawit mampu berproduksi hingga 2 sampai 3 tahun untuk cabai rawit lokal. Sedangkan jenis cabai rawit hibrida usia produktifnya relatif lebih pendek, yaitu antara umur 8 bulan sampai umur 12 bulan.

Tinggalkan Balasan